Peta Darod Donya Perlihatkan Banyak Situs Sejarah yang Kini Hilang

Simbun.com

Banda Aceh – Penghilangan peninggalan sejarah dan pemakaman kuno dari Kerajaan Aceh Darussalam sudah berlangsung lama. Hal ini jika dikaji dari peta Daroeud Donya yang dibuat Belanda di pengujung abad ke-19.

“Ada beberapa kompleks makam saat ini justru tidak kita temukan lagi, berdasarkan peta yang digambarkan oleh Belanda. Salah satunya adalah peta kuburan raja,” kata Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Mizuar Mahdi seraya memperlihatkan salinan peta produksi Belanda, Kaart van den Kraton met omstreken (Peta Kraton dengan daerah sekitarnya), Senin, 4 September 2017.

Dalam peta tersebut terlihat beberapa kompleks makam yang ditandai dengan garis bujur sangkar dan di dalamnya bersimbol bulan sabit. Menurut Mizuar, gambar bulan sabit dalam peta tersebut menandakan kuburan. Berdasarkan peta yang direpro Irfan M. Nur ini, diketahui ada beberapa kompleks pemakaman raja-raja berada di kawasan Blang Padang, Banda Aceh. “Tapi saat ini tidak ditemukan lagi,” ujar Mizuar.

“Ada beberapa informasi yang kita dapatkan, yang membenarkan adanya beberapa kompleks pemakaman yang sudah dibongkar sekitar tahun ’90-an. Nisan itu diselamatkan di pendopo wali kota saat ini. Kemudian saat pembangunan pendopo wali kota ini, nisan ini diduga sudah ditimbun di dalamnya,” ujar Mizuar.

Selain kompleks pemakaman di kawasan Blang Padang yang sudah hilang, berdasarkan penampakan peta tersebut, diketahui juga perbedaan luas kompleks makam Po Teujeumaloy yang berada di kawasan bakso Hendra Hendri, Banda Aceh. Saat ini, kawasan perkuburan ini hanya terlihat dua nisan, padahal jika merujuk ke peta, kompleks ini memiliki areal lahan kuburan yang luas dengan dipagari dua garis diwai dan memiliki pintu masuk.

Mizuar juga menyebutkan adanya kompleks pemakaman di kawasan Merduati, Banda Aceh. Namun jika merujuk ke peta tersebut dengan kondisi saat ini, lokasi kompleks pemakaman tersebut tidak kelihatan lagi. Begitu juga dengan kompleks pemakaman para petinggi Kerajaan Aceh Darussalam yang ada di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, baik yang berada di lokasi Barata saat ini maupun di kawasan Kantor Kodim. Kompleks pemakaman yang tinggal hingga saat ini hanya Kandang Meuh 12 yang juga berada di kawasan perumahan militer di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

“Pemakaman ini sebenarnya sangat penting. Bagi Belanda saja penting, mereka saja menggambarkan keberadaan kuburan ini dalam peta tersebut,” kata Mizuar.

Mizuar menunjukkan peta ini sekaligus untuk memperlihatkan kompleks pemakaman di Gampông Jawa dan Gampông Pande, yang saat ini masuk dalam proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) dengan sumber anggaran dari APBN. Mizuar menyebutkan, keberadaan pemakaman Kerajaan Aceh Darussalam itu sudah ditemukan sejak 1990-an. Namun, kondisi tersebut saat ini sudah berubah.

“Di bawah TPA itu, diduga kuat itu juga ada kompleks pemakaman Aceh Darussalam. Ini berdasarkan keterangan arkeolog yang melakukan penelitian di kawasan tersebut,” ujar Mizuar.

Sebenarnya, kata Mizuar, Banda Aceh memiliki ribuan kompleks pemakaman yang pascatsunami telah hilang. “Kita tidak tahu apakah ini karena tsunami atau ulah manusia, atau pemerintah,” ujarnya.

Sumber: Portalsatu